Sunday, February 18, 2018

2018 Lifestyle Goals


Ketika menginjak belajar di kampus gajah, saya mulai sadar kalau kondisi kamar ketika akan ditinggal itu akan ‘sangat’ mempengaruhi kesehatan psikis dalam ngejalanin aktivitas seharian di luar. Ini bukan perasaan ya. Jadi ketika psikis saya siap untuk menjalankan suatu hari baru, pasti ngga akan ada yang namanya ninggalin kamar dalam kondisi berantakan. 

Okelah am not some madam perfect yang tiap barang harus lurus teratur selalu di situ dan ngga ada setitik debu pun tertinggal di permukaan barang yang ada di kamar. But at least haruslah kasur itu udah diberesin, selimut udah dilipet, bantal-bantal udah ketata, dan nggak ada barang-barang perintilan yang berserakan (berserakan ya) di atas meja atau karpet.

Mungkin yang barusan normal buat kebanyakan orang, but aku baru dapet ‘aha’ moment ini ya baru dua tahun terakhir ini. Waktu itu partner saya ketika kerja bareng di Departemen Humas dan Media di Kamil, adalah orang yang bersihnya dan rapihnya bikin saya speechless, karena di atas standar rapih saya, padahal dia laki-laki. Jaket habis dipakai aja dia lipet presisi banget sama ukuran tas dia dan ditekan sampai setipis mungkin.  Folder di laptop juga terkategori dengan rapi sekali. Tiap ada agenda, dia bahkan lebih rapi dalam notulensi daripada saya, yang perempuan. Ketika misalkan ada acara yang butuh beres-beres dan di bawah komando saya acara itu udah siap buat dimulai, dia masih aja keluar instruksi yang intinya beres-beres saya belum beres. Sering dibuat kesal juga akhirnya. Waktu itu saya mikir, pasti ada hikmah Allah kirim orang kaya dia gini ke saya yang masih suka serampangan (yang kalau dalam bahasa positif saya adalah ngga kaku dan fleksibel haha). Saya belajar buat ngga kalah sama dia dan berpikir saat itulah saatnya untuk memulai serius istiqomah berbenah. Misal, kalau awalnya ngelipet mukena sekadarnya akhirnya mulai diperhatiin lagi gimana biar beneran rapi, barang-barang diatur biar ngga berserakan, mulai rutin beli bunga sedap malam biar hepi sama kamar, rutin londri sprei dan selimut at least 2 minggu sekali (belum kuat dan ga ada waktu buat cuci sendiri haha), rutin cuci sandal dan bersihin sepatu, dan macem-macem lagi yang sebelumnya aku pikir belum masuk prioritas untuk dilakuin. 

Namun yang paling menampar ya kejadian baru-baru ini.
Pernah berada di suatu titik terendah di akhir tahun 2016, saat itu kondisi kamar pun berada di titik akut yang parah banget. Even ketika atasan dan senior datang bertamu hendak menjenguk, saya sampai tidak tega mempersilahkan beliau-beliau masuk kamar saya. Saya berpikir, kenapa masih aja bisa kumat berantakan gini. Oh saya salah niat sepertinya setelah direnungkan lama. Cuma buat ego kalau perempuan ngga akan kalah rapi dari laki-laki. Makanya fisik saya lelah, ketika psikis pun sedang lelah, jadilah berantakan segala rupa. Nah, ketika saya memutuskan untuk membenahi hati saya, saya secara otamatis pun ‘berbenah’ dengan segala barang dan item yang ada di kamar.

Kenapa?

Karena kamar yang berantakan itu udah cukup jadi distraksi buat hati saya jadi berantakan lagi juga. Haha baper ya, namun demikianlah adanya. 

Apakah setelahnya ketika saya down lagi lalu saya berhenti berbenah?

Saya berusaha untuk tidak.

Saya mulai mengerti yang membuat saya down adalah ketika berlepas dari Allah. Maka sejak saat itu, segala aktivitas yang saya lakukan kalau bisa yang bikin Allah jadi suka terus sama saya. Karena kebersihan adalah sebagian dari iman, sebagian dari yakinnya kita ke Allah, ngebuat saya buat serius rutin bersih-bersih buat nunjukin kalau saya yakin Allah. Dan dengan ngejaga kamar tetap rapih ini sama dengan ngejaga Allah juga agar dekat dengan saya. Ini booster yang luar biasa ya buat ukuran iman saya yang naik turunnya kadang udah ngga termaafkan harusnya.

Jadi balik lagi, setelah rutin berbenah dengan standar saya yang saya naikin dikit-dikit, psikis saya jadi lebih tertata juga. Lebih positif. Lebih terbuka. Lebih menerima.  Saya jadi lebih bahagia di tempat kerja. Lebih menikmati menghadapi permasalahan di sekolah. Dan bonus yang paling terasa ya saya lebih menikmati berlama-lama, bermanja-manja dengan Rabb saya. Nyaman tilawah, semangat murojaah. Karena kan kamarnya cling, rapi, wangi hehe.

Berangkat dari sini, tentunya attitude yang bagus ini harus dijaga, dirawat, dipelihara jangan sampai musnah kena badai siklon dahlia. Di Shokyuu Intensive Class yang merupakan program dari KonMari Indonesia, saya diajak untuk memvisualisasikan attitude ini sebagai gaya hidup ideal saya. Saya lebih suka menyebutnya 2018 Lifestyle Goals untuk diri saya sendiri hehe.

Saya percaya, lifestyle itu dipengaruhi banget saya amalan yaumiyah. Tiga amalan yaumiyah basic yang saya masih pertahankan sampai sekarang walaupun seringnya tertatih-tatih, belum juga habit into ikkansei sesuai slogannya MJR-SJS, menjadi penopang atau pondasi dari life style ideal yang saya impikan untuk bisa istiqomah. Jadi di MJR-SJS, setiap hari setidaknya kita harus khalas tilawah 1 juz, wirid Al Ma’tsurat, dan qiyamul lail. Saya masih sering matahari (tidak lengkap melakukan ketiga amalan yaumiyah ini) daripada petir (lengkap menjalankan ketiganya). But yet, I feel secure to maintain myself steady dengan ikhtiar muraqabatullah ini. Mungkin, saya memang udah sangat butuh imam ya biar makin cetar ber amal yaumiyah (haha excuse).

Kalo amalan yaumiyah udah kuat, maka menguatkan diri untuk mengupayakan lifestyle goals juga insyaAllah akan aman.  Soooo ini diaa my 2018 Lifestyle Goals:
1.       Saya akan rutin untuk workout di tempat olahraga muslimah setiap pulang kerja tiga kali seminggu. Misalkan ada halangan kaya meeting dadakan jadi pulang kemaleman, saya akan plank sendiri di rumah 5 set sebelum tidur.
2.       Saya akan nyetok buah, sayur, dan lauk setiap minggu untuk dikonsumsi sepekan. Buahnya beli di toko sebelah kosan dan selalu beli yang per kilo paling murah, karena tiap pekan selalu beda harga buahnya hhe. Sayur dan lauk yang dibeli juga pilih yang gampang dan ngga habis waktu buat diolah (karena pulang kerja udah capek apalagi kalau workout juga, belum misalkan bawa kerjaan), misal bayam wortel dan fillet ayam. Bisa dibuat sup, atau direbus jadi bayam korea atau dimakan sama sambel pecel. Jadi, bisa makan sehat dan hemat setiap hari
3.       Banyakin baca buku buat nutrisi kerjaan sama nutrisi hati, yang ngga ebook, jadi biar bisa ngurangin cranky Instagram, You Tube, sama nonton yang hanya membuat daku yang basicly mager jadi tambah-tambah males buat bergerak. Tema buku-buku buat dibaca tahun ini sepertinya akan lebih banyak tentang pendidikan di sekolah dan di rumah untuk anak-anak. Saya juga ngga akan menolak sastra indie yang kaya nilai islam. Buku tentang berbenahnya Marie Kondo juga pastinya. I would like to buy the manga one from Periplus, udah lihat previewnya di Play Books dan unch banget yet bikin semangat beres-beres haha.
4.       Saya ngga akan skip doing skin care routine, baik yang daily maupun yang weekly. Sebelum kerja dan mau tidur. Skin care routine yang saya jalanin yang basic aja tapi istiqomah. Yang daily adalah double cleansing, double toning, dan moisturizing, lalu sun screen kalo pagi. Yang weekly cukup exfoliating mask aja. Sisanya bebas fleksibel mau gimana. Yang dibenahin ngga kamar doang dong ya, muka juga hhe.
5.       Saya akan rajin merawat succulent lagi buat di meja kerja sama di atas rak buku. Kalau ada budget lebih, boleh beli bunga sedap malam atau bunga lain seminggu sekali.
6.       Saya akan rutin mencuci motor dua minggu sekali dan rajin catat km motor biar sadar kapan harus servis motor di bengkel
7.       Setiap dua minggu sekali, saya akan semi-spring clening yaitu ngebersihin rice cooker, cuci keset, dan londri sprei dan selimut.
8.       Petir di MJR-SJS setiap hari. Naik kelas ke MJR-SJS 1 dan bertahan di sana. No hutang kulsap lagi.



Buanyak ya setelah scroll up lagi, dan mayan berat juga. Apalagi banyak plank nya hahaha. Ngga papa, semoga list Lifestyle Goals di atas diaminin sama malaikat. Dan diringankan buat dikerjakan. Serta diteguhkan untuk diamalkan hihi.
Udah segitu aja tulisan saya. Gapapa ya walaupun anti klimaks. Semoga jadi pesan yang baik terutama buat saya di masa depan. Ganbarimasyou!

Sunday, February 4, 2018

Jangan Dijadiin Beban, Soalnya ...

Tulisan ini sebenarnya adalah catatan hasil merangkum ketika mengikuti Tatsqif pertama di tahun 2018 ini. Tema Tatsqifnya memang tentang Let's Move Up, namun saya tidak menyangka bahwa yang terjadi kemudian adalah pengupasan isi, atau bahasa bakunya adalah tafsir, dari surah Al Insyirah. Surah yang dalam benak saya mainstream, surah yang saya fikir 'oh, saya sudah tahu'. Dan maha besar Rabb saya, yang mengatur semesta untuk meringankan langkah saya untuk datang, untuk mencatat tafsir yang dijabarkan Ustadz Jamaluddin ini, dan untuk menggugah hati saya yang congkak tak terkira menjadi 'terobati' setelah menerima tafsir surah ini. Dan untuk membuat tulisan ini juga, yang kalau bukan karena jadwal kulsap di MJR 2, saya mungkin hanya akan membiarkan rangkuman ini terselip rapi di dalam buku catatan kajian bersampul kulit di rak buku saya.

Sebagai tulisan yang defaultnya memang untuk menggugurkan kewajiban kulsap, kalimat-kalimatnya akan singkat, padat, bertipe kalimat langsung, dan banyak istilah per MJR an yang muncul seperti comin, laporan, dan semacamnya.

Turunnya di mekkah. Jadi ayat-ayatnya pendek. Kontennya tentang aqidah, banyak peringatan tentang surga dan neraka, serta sastranya dapet banget.

Ayat pertama, yg isinya adalah bukankah kami telah melapangkan bagimu dada mu? Itu merujuk pada surah sebelumnya yaitu Adh Dhuha ayat 5 - 8, yaitu tentang nikmat-nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW

Ayat kedua, wadha'a - yadha'u yg artinya melepaskan. Selain sudah diberi nikmat, Allah pun sesungguhnya sudah melepaskan dari mu beban mu.

Beban yang dimaksud adalah dakwah, segala sesuatu tentang menyampaikan kebenaran, amar ma'ruf nahi munkar. Dakwah ketika di Makkah ini, membebani Nabi sedemikian rupa hingga dijabarkan di ayat ketiga sebagai anqadha yang artinya membebani berturut-turut, membebaninya terus menerus, sehingga terasa sulit, terasa sangat berat. Alladhi anqadha dhahran. Dhanrun ini artinya adalah punggung, bukan bahu. Saking beratnya dakwah ini, sampai rasanya itu sudah tidak bisa dipikul di bahu, tapi membebani sampai punggung, sampai terbungkuk-bungkuk rasanya.
Nah, beban yang berat banget luar biasa ini pun sudah dilepaskan oleh Allah.

Bahkan di ayat selanjutnya, Allah mendeklarasikan bahwa derajat kita pun telah di angkat. Jadi pertama dada sudah dilapangkan, beban sudah dilepaskan, derajat juga sudah diangkat.

Telah dilapangkan dada itu sebenarnya memiliki definisi maknawi, jd Allah sudah melapangkan sebenarnya tanpa kita sadari, karena we see but we do not observe.

Jadi dijelaskan di ayat selanjutnya, inna ma'a al'usri yusran. Bersama al'usri ada yusran. Al'usri ini adalah kesulitan, yg karena ada alif lam, dia sifatnya singular dan jelas, cuma ada satu aja yaitu beban dakwah yang tadi. Namun yusran, ini sifatnya plural dan luas, sangat sangat sangat banyak. Jadi yusran adalah kemudahan yang bahkan tidak dapat kita hitung, kenikmatan yang begitu luasnya hingga tidak dapat dibanding dengan kesulitan yang cuma ada satu itu tadi.

Bisa dibilang, salah satu sebab Rasulullah SAW saat itu merasa sempit dengan dadanya adalah karena terlupa akan nikmat Allah sebelumnya. Jadi ayat satu Al Insyirah seakan-akan mengatakan, "Kami kan udah melapangkan dada kamu, kenapa kamu masih merasa sulit?"
"Ketahuilah, bersama kesulitan itu ada kemudahan"

Sehingga, yang namanya dakwah itu pasti selalu satu paket kesulitan dan kemudahannya. Yg perlu di red circled adalah si kemudahan itu sudah ada jauh lebih banyak daripada kesulitan dari beban dakwah yang kita hadapi.

Ayat ketujuh, faidza faraghta fanshab. apabila kamu selesai dengan satu urusan, fanshab. Fanshab ini maknanya sama dengan inqadh di ayat ketiga, yg artinya berturut-turut. Jadi bisa dibilang fanshab ini adalah gerak cepat, sigap, segera selesaikan dan serang yang lain.

Dalam tafsir ibn katsir, maksud dari ayat ketujuh adalah apabila kamu telah selesai dari satu urusan duni, segeralah mengerjakan shalat.

Dalam tafsir jalalain, maksud ayat ketujuh adalah ketika selesai shalat, segeralah berdoa

Namun definisi yang paling tepat adalah tidak ada waktu kosong bagi orang mukmin, semua kesempatan baik lapang maupun sempit merupakan waktu untuk senantiasa produktif

Masuk ke ayat terakhir, dan kepada Tuhanmu kamu berharap. Definisi raghiba - yarghabu adalah berharap, ingin, suka. Jadi ketika diri ini lalai, merasa sempit, merasa susah, coba dicek lagi. Bisa jadi ketika menyampaikan dakwah ini, berharapnya sudah menyimpang ke ngarep dianggep sama manusia. Atau bisa jadi berharap dan yakinnya sama kekuatan diri sendiri. Bisa jadi karena melalaikan Allah itulah yg membuat semua terasa menjadi beban.

Menuju akhir, intisari tafsir surah Al Insyirah ini adalah:
1. Selalulah berlapang-dada di manapun dan kapanpun selama berdakwah
Misalkan ngingetin member buat kulsap ama laporan (minta dihajar comin 😂🙏🙏)
Dakwah itu panjang prosesnya, tidak akan bisa spontan, misal hari ini kita sampaikan besok sudah berhasil

2. Ada tantangan dalam dakwah
Sadari meski banyak kesulitan dalam dakwah,  tapi Allah pasti akan beri kemudahan
Maka berusahalah agar senantiasa dapat menjadi abdan syakuro

3. Produktivitas
Kita harus mampu menggunakan waktu dengan cepat. Bahasanya kerja secara efisien.

4. Berharaplah hanya kepada Allah
bukankah dia yg tawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkannya?

Jadi, kalimat klise yang sering menjadi nasihat yang (padahal memang) baik yaitu 'jangan dijadikan beban, ya..' memang benar adanya. Apalagi masalah yang kita pikir adalah beban itu, seringkali belum di level masalah sebab karena dakwah.

Jadi ya rek, jangan dijadikan beban ya, karena sungguhan Allah udah kasih kelapangan dan kemudahan yang banyak banget. Kitanya aja yang lupa. Kitanya aja yang ngga peka.

Sunday, January 14, 2018

Move On dari Kpop

Pernah ngerasain gini?

Tilawah kenceng tapi youtube an jalan terus, mantengin come back nya grup A.

Ngikutin semua reality show membernya grup B.

Ngeliatin semua versi live lagu kesukaan dari grup C.

Kalo buka hape liat beritanya di kolom Soompi.

Nggak tenang kalo sehari aja ngga liat update an terbaru dr grup kesukaan.

Atau mengagendakan me time dengan maraton nonton drama dari ep 1 sampai selesai.

Kalau udah addict gini, jangan salahkan kalau amal yaumiyah belum bisa istiqomah. Jangan heran kalau ibadah tidak terasa manis. Dan tidak mengejutkan kalau sehari-hari masih terasa gundah dan merasa nggak mengerti dan menerima apa maunya Allah.

Karena dengan per kpop an yg ON itu bisa dibilang kalau ketenangan, rasa nyaman, sakinah yang kita cari bukan dari Allah.
Dan fitrahnya, di dalam dada itu, kpop dan alquran tidak akan bisa mendekam bersama, bergandengan bersama. Kalau ada kpop di sana, dusta bila kau katakan aku menyimpan al quran di dada. Dan bila memang ada kalam Allah di sana, tak mungkin lirik kpok yang hanya butiran jas jus dapat menembus keagungan Al quran. Kalau kamu sudah tau kamu hanya mau disayang Allah, sudah saatnya kamu move on yang 'sebenar-benarnya' dari kpop.

Jadi gimana aja tips nya?

1. Sadari, kalau target kamu buat masa depan akhirat adalah surga firdaus, recheck lagi term and condition appliednya apa. Kata Allah, di awal surat al muminun, jannatul firdaus hanya untuk mereka yang tidak melakukan hal sia-sia. Underline klo per kpop an tidak memberikan kebermanfaatan apa2 di dunia, malahan bikin nambah2in perhitungan saat dihisab nanti. Memang awal2 move on akan selalu berat, selalu susah. tapi nantinya waktu beneran akan menyembuhkan segalanya kok. Hal yg terasa berat itu kalau memang sudah diniatkan untuk menyudahi yang sia2, sama Allah ngga akan ngga diapresiasi apa2. Yakinkan, kalau makin terasa berat perjuangan lillah nya, Allah akan makin membuka lebar pintu2 rahmatnya untuk kita

2. Alihkan obsesi ngefansnya ke Rasulullah dan para sahabat. Yg all out. Gimana biar cara kita bersikap, berbicara, kaya nabi banget, yg menentramkan orang lain. Cara kita bekerja kaya Umar, yg efisien, cerdas, no compromise, totalitas memberi kebermanfaatan untuk lain. Gimana melunakkan hati biar kaya abu bakar yg selalu lapang dadanya, pemaaf. Gimana biar bisa tetap menyenangkan dengan joke2 cerdas seperti Ali. Gmn agar tetap santun seperti Utsman.
Seseorang akan membersamai orang yang dicintainya di surga. Bukankah ini udah seperti golden ticket untuk kita, yang amalan ibadahnya belum tentu bisa menyamai para sahabat apalagi Rasulullah. Dengan mencintai dengan sebenar-benar cinta, melebih die hard fans kpop ke grup manapun, bisa mengantarkan kita ke surga, bersama rasulullah dan sahabat yang kita cintai. Sungguh, masih maukah kita berpayah-payah mencintai mereka yang tidak ada iman sama sekali kepada Allah? :'(

3. Mulai berubah sekarang.
Mulai tonton video2 kajian yg kamu suka di youtube, biar time line youtube kita bersih dari suggested video per kpop an. Skrg ini udah banyak video2 keren kajian, murottal, konten dakwah, konten ilmu, yang bisa kamu pilih sesuka kamu, yang paling cocok sama tipe dan selera kamu, yang bisa menggugah hati kamu, yg bisa selalu ngecharge iman kamu.

Hapus semua stok video2 ga berfaedah yang ada di laptop, hard disk, flash disk. Bismillah yang kenceng sebelum hapus, insyaAllah akan sangat melegakan dan nge push move on nya biar lebih nyala lagi.

Bersih2 semua perangkat perkpopan yg sifatnya fisik, kaya light stick, poster, cd album, merchandise. Bisa kamu jual lagi, uangnya diinfaqkan. Atau kamu bisa literally buang aja biar ga nabung dosa jariyah~

Semoga tipsnya bermanfaat ya. Semoga setelah start move on, kualitas amalan yaumiyah jadi makin baik lagi, ibadahnya bisa terasa lebih manis, dan hati terasa makin dekat lagi dengan Allah

Hasbunallah wa ni'mal wakiil. Ni'mal maula wa ni'mannashiir. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

(Written in the Damri along the way from Bandung to Kota Baru Parahyangan, to accomplish kulsap in MJR SJS 3, jadi sepertinya masih butuh banyak disunting)

Saturday, October 14, 2017

Manajemen Rasa

Kalau di al ma'tsurat kan ada ya kata Tirmidzi, kalau kita berkata, "radhitu billahi rabba, wa bil islami diinaa, wa bimuhammadin nabiyyan wa rasuulaa" , wajib baginya surga. Gimana bisa ya orang yang baca gitu jelas bakal akan clearly undoubtly get into jannah.

Jannah itu sebelum di akhirat nanti, sebelum jadi hasil ketok palu terakhir, kalau kita memang akan akan menghuni surga, at least kita bakal nyicipin dikit di dunia, yaitu rasa bahagia, tenang, dan nyaman. Kalau kita lihat dari radhiitu, berarti aku ridha. Ridha itu menerima dengan sabar nahan yang ngga enak-enak jika dirasa sulit dan berat dan bersyukur dengan segala apapun bentuk rizki yang kita dapat. Pada akhirnya, hidup ini tidak ada yang kita lakukan. Cukup menerima saja. Kalau udah bisa menerima, maka ketika kita ketemu sama semua yang nggak nyenengin, "rasa"nya akan jadi biasa aja.

Tadi kan radhiitu billahi rabba. Aku ridha Allah sebagai Rabb. Rabb itu berarti Allah sebagai pencipta, pemberi rizqi, dan pengatur segala-galanya dari mikro sama makro. Konsekuensi kita kenal Allah sebagai rabb ini yang bikin kita jadi ridha.

Kadang kita suka mempersempit makna rizqi dengan uang, padahal bisa jadi rizqi itu dengan bus damri yang datang lebih on time, angkot yang segera berangkat, nasi kotak dari tetangga, dll yg kadang bikin kita lebih fokus ke "ya ampun orang ini baik banget ya" daripada terbersit dalam hati "ini rizqi untukku hari ini dari Allah yang Maha Baik".

Kadang juga kita exaggerate, lebay, me"rasa" yang paling menderita sedunia ketika misalkan uang bulanan menipis. Padahal kalau kita kenal Allah sbg pemberi rizqi, kita akan lebih merasa tenang karena tawakal, yakin bergantung pada Allah yang kalau bukan Dia yang mencukupkan rizqi kita, apalagi kita kan makhluk ciptaanNya yg pasti akan Dia pelihara,  kita ga akan survive sedetik aja di dunia ini.

Kadang kita jg lupa kalau anak, jodoh, kerjaan, studi ke luar negeri, angkot yang ngetem kelamaan, kecelakaan motor, hp hilang, laptop rusak, gagal pulang kantor on time (eh), dan semua hal yg nggak sesuai keinginan kita  itu semua bagian dari pengaturan Allah. Kalau Allah udah ngatur gitu yaudah diterima saja sambil senyum. Dan kalau kita sadar itu semua merupakan bagian dari pengaturan Allah, kita akan lebih merasa tenang untuk menerima, dan siap untuk the next step of ikhtiar.  Kalau kata Alhikam, Allah memberikan kesempitan agar kita tidak terikat oleh kelapangan. Dan Allah memberikan kelapangan agar tidak terikat oleh kesempitan. Agar kita hanya terikat pada Allah. Agar bagaimana kita merasa, dibalikin lagi semuanya ke Allah. Karena kalau kita fokus ke sakitnya aja, akan jelas terasa sakit (titik fokus lensa kan cuma satu, abaikan, plakkk). Kalau kita sudah bisa masuk ke tahap memahami Allah sebagai Rabb tadi, maka kita juga akan lebih memahami bagaimana harus bersikap dan merasa.

Karena sesungguhnya ridha, rela itu diawali dengan ma'rifatullah, dari kenal dulu, paham dulu Allah itu apa, mauNya gimana. Semakin kenal dengan Allah, semakin dekat kita dengan Allah, maka kita akan semakin mudah memanage rasa apa yang harus atau ngga harus kita umbar. Semakin kenal Allah sang rabb,  rasa nya akan semakin lapang dan bahagia dengan apapun itu yang terjadi.

Kalau segala sesuatunya di"rasa" membahagiakan apalagi itu kalau bukan surga?

Wa bassyiril mu'miniin.

Semoga selalu berbahagia dengan iman di dada 😇

(Wallahu a'lam. Terbuka untuk segala koreksi. Kebenaran dari Allah, kesalahan dari saya)

Friday, March 17, 2017

Pahlawan Pembela Kebenaran

Sejak kembali ke Pare, kampung halaman saya, saya udah ngga baca-baca lagi bukunya Salim A. Fillah karena buku-bukunya masih pada di Bandung. Akhirnya kemarin boyongan juga dan segaban-gaban buku kesayangan genre favorit saya (am not saying that the books at home are not really my thing) kembali (hehe).

Malam ini nggak sengaja ngebaca lagi, buku tulisan Salim yang pertama kali saya baca. Judulnya Dalam Dekapan Ukhuwah. Setelah katam baca ini dulu, bawaannya hepi, merasa cukup, udah punya ilmu buat baik sama orang. Turns out, nggak sama sekali.

Jadi yang saya buka halaman 208 - 209, tentang sebening prasangka. Berikut kutipannya

Tak ada yang salah dengan berdebat. Apalagi jika kita mengikuti jejak para Rasul yang berbantahan dengan cara yang indah dan mulia. Allah pun merestuinya sebagai salah satu cara untuk menyampaikan kebenaran dariNya. Namun ada kerawanan yang harus sangat diwaspadai dalam debat. Ia sangat mudah memercikkan hawa nafsu, membangkitkan amarah, dan merusak hubungan.

Dalam dekapan ukhuwah, kita menghindarkan diri dari debat yang cenderung mencari pembenaran diri dan mengabaikan kebenaran suci. Dalam dekapan ukhuwah, ada pilihan untuk meraih rumah di surga dengan menhindarinya. "Aku menjaminkan sebuah rumah di tengah-tengah surga," kata Sang Nabi dalam riwayat Abu Dawud, "Untuk orang yang menahan diri dari debat, meski dia benar."

Saya tercekat membaca hadits nabi ini. Bagaimana saya bisa nggak ngehighlight ini benar-benar dalam hati. This is exactly what I need to deal with parents. Living together sometimes makes the friction even bigger. Ego tinggi dan pemahaman sempit saya tentang "segala sesuatu harus dikomunikasikan dan didiskusikan sampai clear dan tuntas agar di kemudian hari tidak terjadi salah paham lagi" is totally doesn't work, at all. Jadinya malah saya memaksakan opini pribadi (yang saya anggap kebenaran yang harus disampaikan) dengan hasil akhir menyakiti orangtua.

Maka hakikinya berbuat baik pada orangtua itu adalah menekan ego. Harusnya kita sudah terlatih, toh sebagai hamba Allah kita diharapkan menekan ego juga kan. Tapi kalau bahasanya menekan jadinya malah tertekan ya hehe. Lebih enak dibilang kita harus bisa melatih diri buat memilih. Memilih antara menenangkan pandangan diri, dengan menaklukan hati dan jiwa, karena Allah yang suruh. Balik lagi, karena kalau Allah yang suruh pasti itu yang paling baik.

Seni hubungan anak-orangtua memang menarik. Sebisa mungkin, doa yang tak putus-putus dipanjatkan adalah agar bisa masuk surga sekeluarga. Ada selentingan lain mungkin atau guyuran air nasihat untuk saya yang masih harus belajar banyak everything about kids-parent relationship? Feel free to post and comment :)

Monday, January 23, 2017

Tasbih Nabi Yunus

Laa ilaha illa anta. Subhanaka inni kuntu minadzdzalimin. (Bahasa simpelnya saya yang salah ya Allah, saya yang dzalim)

Citing from Aa Gym

Apa yg paling mengancam kita di dunia ini? Tidak lain adalah keburukan diri kita sendiri. Orang sering berpikir kalau-kalau orang lain menyakitinya, menghinanya, meremehkannya, mengkhianatinya. Sehingga pikirannya harus fokus pada orang lain. Padahal keburukan tidak akan datang jika kita tidak berbuat buruk. Menjauhi kemaksiatan, sikap merendahkan, dan meremehkan orang lain.

Maka yang terpenting adalah sibuk memperbaiki diri. Sibuk membersihkan hati. Menjauhi perangai buruk. Menjauhi kemaksiatan, sikap merendahkan dan meremehkan orang lain. Meluruskan ibadah dan memelihara akhlak mulia

Tribute untuk sahabat-sahabat yang sudah menjadi saudara, yang sabar dan sayang dalam menasihati, yang menunjukkan dengan teladan tanpa banyak kata, yang selalu bisa menyikapi apapun dengan sabar dan syukur, yang membumi, tak pernah merasa paling pintar, yang masih saja haus ilmu. Aku rindu, aku juga haus.

Friday, January 6, 2017

Perang!

Virus dope, juga kamu
Bimbang
Ini hangat ukhuwah atau jeratan monster?
Padahal realitas menunggu di genggaman
Kenapa lari?
Jika kemudian resah, maka salah siapa lagi?

Saturday, December 31, 2016

Takut

Dia bilang, takut
Tapi itu sudah ratusan hari yang lalu
Sekarang aku baru merasakan takut
Di tengah letup-letup petasan
Disinari pancaran bunga api
Ini akhir tahun lagi

Tuesday, December 13, 2016

Upaya Tahu Diri

... lelaki akan mudah menemukan perempuan yang tepat di saat ia merasa telah siap menikah...

... namun bila sudah siap menikah, tidak sulit baginya untuk menemukan perempuan yang dianggapnya cocok, dan dalam waktu yang tidak lama ia memutuskan untuk menikah.

Halaman 123 dari buku Wonderful Journeys For a Marriage oleh Cahyadi Takariawan. Tulisan Ustadz Cahyadi banyak dijadikan rujukan oleh Salim A. Fillah terutama dalam bahasan pernikahan.

Akhirnya datang masa ketika dirinya mengakui (blimey) bahwa dia bukanlah perempuan yang tepat (grin).